BACA AKU
Konsumtif, kata yang lebih lekat jika disandingkan dengan kaum hawa, termasuk saya. Lalu, apakah saya tersinggung? Tidak. Bagaimana bisa saya tersinggung disaat kenyataannya memang demikian? Apalagi jika dikaitkan dengan benda bernama buku. Bukan buku tulis, atau buku gambar. Maksud saya, buku bacaan. Apapun genrenya. Tapi sayangnya, saya punya kebiasaan buruk dengan benda cantik satu itu, yaitu saya selalu membeli dalam jumlah lebih dari satu. Biar ada temannya, begitu pikir saya setiap kali melakukan kebiasaan itu.
Seperti beberapa hari yang lalu. Seusai pulang kerja, saya berniat untuk berkunjung ke salah satu toko buku di kota tempat tinggal yang pernah saya lihat sedang memasang pengumuman besar bertuliskan “Pesta Buku Murah mulai Rp5.000,-”. Goyah sudah iman saya jika melihat tulisan seperti itu. Maka, niat tersebut secepat mungkin saya realisasikan agar menjadi kenyataan dan tak berbuah kekecewaan.
Sesuai rencana, saya akan berkeliling hingga nanti menjelang adzan Maghrib. Sekalian ngabuburit. Rencana lain yang juga sudah saya pikirkan adalah : saya hanya boleh menghabiskan uang Rp100.000. Belanja buku maksimal Rp 75.000, Rp12.000 untuk biaya ojek pulang-pergi, dan sisanya untuk membeli minuman berbuka puasa. Rencana mengenai biaya harus lebih bisa saya realisasikan, mengingat tanggal yang masih sangat belia dan tunjangan hari raya yang belum terprediksi kapan akan masuk ke rekening saya.
Satu, dua, tiga, empat, lima buku sudah tertumpuk hangat dalam dekapan. Sambil komat-kamit menghitung total belanjaan, tiba-tiba, “Permisi, Kak, ini ada tas kalau membutuhkan”. Ah, lemahlah saya jika disapa dan diberi senyum ramah khas SPG. Tak bisa menolak. Saya terima tas kain berlogo toko buku tersebut dengan senyum yang ramah pula, “Makasih ya, Mbak”.
“Buku ini covernya bagus, yang ini sinopsisnya bagus, yang ini karya si penulis favorit, yang ini covernya terlihat ‘mahal’, yang ini langka dan mumpung ada di sini, yang ini katanya bagus, yang ini best seller, yang ini karya penulis yang sedang terkenal itu, nah yang ini akhirnya ada di sini. Mmm sudah ke rak sebelah sana atau belum ya? Sepertinya belum. Ke sana aah,” saya mulai nggedumel dalam hati sambil dengan lincah plangplung plangplung memasukkan buku-buku pilihan.
Setelah merasa lelah dan jam di tangan menununjukkan pukul 17.15, saya akhirnya menyerah. Dengan susah payah, saya bawa tas belanjaan menuju kasir.
“127 ribu, Mbak.”
“Ah tak apa, nanti pasti akan saya baca satu per satu. Saya sudah berniat lebih rajin membaca buku-buku yang sudah saya beli. Lagi pula daftar buku yang belum saya baca sepertinya tinggal sedikit di rumah. Anggap saja hasil belanjaan yang ini untuk persediaan,” begitu pikir saya. Dan selalu begitu yang saya pikirkan setiap kali berhadapan dengan kasir toko buku.
Sesampainya di rumah, apakah saya langsung membaca? Ooooh tentu. Tentu tidak. Besok saja jika saya tak terlalu lelah. Hari ini saya sangat lelah. Mungkin lebih baik saya buka dulu plastik segel buku-buku ini dan menatanya dalam rak bersamaan dengan puluhan buku lain yang berlabel ‘BACA AKU’. Ternyata deretan buku di rak berlabel ‘BACA AKU’ lebih banyak daripada label ‘SUDAH DIBACA’. Maka dari itu, dan karena malu dengan diri sendiri, akhirnya saya putuskan untuk memilih satu diantara buku ‘BACA AKU’.
Satu, dua, tiga bab selesai. Mata saya lelah. Mencoba meregangkan badan sambil berbaring sebentar. Namun kemudian malah kebablasan hingga waktu sahur datang. Ah tak apa, akan kulanjutkan usai pulang kerja setiap harinya.
Hari berganti hari. Sepulang kerja pasti terasa melelahkan. Selalu ada alasan ‘tak sempat’ tiap kali buku di tas seolah menagih untuk minta penuntasan membaca.
Hingga hari keempat belas dibulan Ramadhan. Buku yang sama, pada bab yang sama, masih ada dalam tas kerja. Sengaja dibawa setiap hari, ke manapun saya pergi. Maksud diri dan hati agar suatu hari nanti bisa terbaca kembali hingga selesai. Tapi niat hanya akan jadi niat, jika tanpa ada upaya untuk merealisasikan niat. Realisasi yang saya lakukan hanya sebatas merealisasikan niat waktu pembeliannya saja, tapi tidak dengan niat membaca, apalagi niat untuk merealisasikan nominal pengeluaran pembelanjaannya, ah tak pernah bisa. Selalu saja melalukan pembelian diluar rencana keuangan. Selalu saja membuat biaya lain terpotong hanya untuk memenuhi hasrat tak terkontrol dalam membeli buku.
Bagi saya, sulit menghilangkan kebiasaan buruk saya terhadap benda tercinta itu karena selalu ada alasan untuk membeli buku dalam jumlah yang tak pernah satu. Sulit menyeimbangkan antara kuantitas bacaan dengan pembelian, karena selalu ada alasan untuk membeli buku. Lebih sulit mengontrol pembelian buku, daripada make up dan baju, karena selalu ada penawaran lebih menarik dari toko buku yang jarang menipu, dibandingkan toko baju. Sulit menyanggah komentar ‘boros’ dari bibir Ibuk, karena ya memang benar seperti itu.
Sebenarnya tersimpan keinginan untuk menuntaskan deretan buku ‘BACA AKU’, agar segala biaya pengeluaran terhadap buku-buku itu sebanding dengan apa yang saya lakukan terhadap mereka (buku-buku itu). Agar tak ada lagi omelan Ibuk perihal pengeluaran untuk mereka. Agar saya tetap bisa memiliki mereka tanpa mengabaikan mereka. Agar saya tetap bisa memiliki mereka tanpa mempertanyakan 'mengapa saya bisa melakukan pengeluaran sebanyak itu untuk mereka?' dimasa mendatang. Agar tak ada lagi siklus : memiliki modal – membeli mereka – memiliki mereka – memasukkan mereka dalam rak ‘BACA AKU’ – berniat membca mereka – tak pernah menyelesaikan mereka – lalu memasukkan mereka kembali dalam rak ‘BACA AKU’ – memiliki modal – membeli mereka yang lain – memiliki – memasukkan dalam rak ‘BACA AKU’ – berniat membaca – dan begitu seterusnya tanpa ada upaya untuk merealisasikan. Jujur, saya tak berniat dan tak ingin berada dalam siklus seperti itu terus menerus. Tapi ada satu yang pasti dan akan terus saya lakukan (atas izin Allah, tentu saja), bahwa saya akan tetap membeli dan memiliki mereka terus menerus, entah sampai kapan.
110617
-yw-
Seperti beberapa hari yang lalu. Seusai pulang kerja, saya berniat untuk berkunjung ke salah satu toko buku di kota tempat tinggal yang pernah saya lihat sedang memasang pengumuman besar bertuliskan “Pesta Buku Murah mulai Rp5.000,-”. Goyah sudah iman saya jika melihat tulisan seperti itu. Maka, niat tersebut secepat mungkin saya realisasikan agar menjadi kenyataan dan tak berbuah kekecewaan.
Sesuai rencana, saya akan berkeliling hingga nanti menjelang adzan Maghrib. Sekalian ngabuburit. Rencana lain yang juga sudah saya pikirkan adalah : saya hanya boleh menghabiskan uang Rp100.000. Belanja buku maksimal Rp 75.000, Rp12.000 untuk biaya ojek pulang-pergi, dan sisanya untuk membeli minuman berbuka puasa. Rencana mengenai biaya harus lebih bisa saya realisasikan, mengingat tanggal yang masih sangat belia dan tunjangan hari raya yang belum terprediksi kapan akan masuk ke rekening saya.
Satu, dua, tiga, empat, lima buku sudah tertumpuk hangat dalam dekapan. Sambil komat-kamit menghitung total belanjaan, tiba-tiba, “Permisi, Kak, ini ada tas kalau membutuhkan”. Ah, lemahlah saya jika disapa dan diberi senyum ramah khas SPG. Tak bisa menolak. Saya terima tas kain berlogo toko buku tersebut dengan senyum yang ramah pula, “Makasih ya, Mbak”.
“Buku ini covernya bagus, yang ini sinopsisnya bagus, yang ini karya si penulis favorit, yang ini covernya terlihat ‘mahal’, yang ini langka dan mumpung ada di sini, yang ini katanya bagus, yang ini best seller, yang ini karya penulis yang sedang terkenal itu, nah yang ini akhirnya ada di sini. Mmm sudah ke rak sebelah sana atau belum ya? Sepertinya belum. Ke sana aah,” saya mulai nggedumel dalam hati sambil dengan lincah plangplung plangplung memasukkan buku-buku pilihan.
Setelah merasa lelah dan jam di tangan menununjukkan pukul 17.15, saya akhirnya menyerah. Dengan susah payah, saya bawa tas belanjaan menuju kasir.
“127 ribu, Mbak.”
“Ah tak apa, nanti pasti akan saya baca satu per satu. Saya sudah berniat lebih rajin membaca buku-buku yang sudah saya beli. Lagi pula daftar buku yang belum saya baca sepertinya tinggal sedikit di rumah. Anggap saja hasil belanjaan yang ini untuk persediaan,” begitu pikir saya. Dan selalu begitu yang saya pikirkan setiap kali berhadapan dengan kasir toko buku.
Sesampainya di rumah, apakah saya langsung membaca? Ooooh tentu. Tentu tidak. Besok saja jika saya tak terlalu lelah. Hari ini saya sangat lelah. Mungkin lebih baik saya buka dulu plastik segel buku-buku ini dan menatanya dalam rak bersamaan dengan puluhan buku lain yang berlabel ‘BACA AKU’. Ternyata deretan buku di rak berlabel ‘BACA AKU’ lebih banyak daripada label ‘SUDAH DIBACA’. Maka dari itu, dan karena malu dengan diri sendiri, akhirnya saya putuskan untuk memilih satu diantara buku ‘BACA AKU’.
Satu, dua, tiga bab selesai. Mata saya lelah. Mencoba meregangkan badan sambil berbaring sebentar. Namun kemudian malah kebablasan hingga waktu sahur datang. Ah tak apa, akan kulanjutkan usai pulang kerja setiap harinya.
Hari berganti hari. Sepulang kerja pasti terasa melelahkan. Selalu ada alasan ‘tak sempat’ tiap kali buku di tas seolah menagih untuk minta penuntasan membaca.
Hingga hari keempat belas dibulan Ramadhan. Buku yang sama, pada bab yang sama, masih ada dalam tas kerja. Sengaja dibawa setiap hari, ke manapun saya pergi. Maksud diri dan hati agar suatu hari nanti bisa terbaca kembali hingga selesai. Tapi niat hanya akan jadi niat, jika tanpa ada upaya untuk merealisasikan niat. Realisasi yang saya lakukan hanya sebatas merealisasikan niat waktu pembeliannya saja, tapi tidak dengan niat membaca, apalagi niat untuk merealisasikan nominal pengeluaran pembelanjaannya, ah tak pernah bisa. Selalu saja melalukan pembelian diluar rencana keuangan. Selalu saja membuat biaya lain terpotong hanya untuk memenuhi hasrat tak terkontrol dalam membeli buku.
Bagi saya, sulit menghilangkan kebiasaan buruk saya terhadap benda tercinta itu karena selalu ada alasan untuk membeli buku dalam jumlah yang tak pernah satu. Sulit menyeimbangkan antara kuantitas bacaan dengan pembelian, karena selalu ada alasan untuk membeli buku. Lebih sulit mengontrol pembelian buku, daripada make up dan baju, karena selalu ada penawaran lebih menarik dari toko buku yang jarang menipu, dibandingkan toko baju. Sulit menyanggah komentar ‘boros’ dari bibir Ibuk, karena ya memang benar seperti itu.
Sebenarnya tersimpan keinginan untuk menuntaskan deretan buku ‘BACA AKU’, agar segala biaya pengeluaran terhadap buku-buku itu sebanding dengan apa yang saya lakukan terhadap mereka (buku-buku itu). Agar tak ada lagi omelan Ibuk perihal pengeluaran untuk mereka. Agar saya tetap bisa memiliki mereka tanpa mengabaikan mereka. Agar saya tetap bisa memiliki mereka tanpa mempertanyakan 'mengapa saya bisa melakukan pengeluaran sebanyak itu untuk mereka?' dimasa mendatang. Agar tak ada lagi siklus : memiliki modal – membeli mereka – memiliki mereka – memasukkan mereka dalam rak ‘BACA AKU’ – berniat membca mereka – tak pernah menyelesaikan mereka – lalu memasukkan mereka kembali dalam rak ‘BACA AKU’ – memiliki modal – membeli mereka yang lain – memiliki – memasukkan dalam rak ‘BACA AKU’ – berniat membaca – dan begitu seterusnya tanpa ada upaya untuk merealisasikan. Jujur, saya tak berniat dan tak ingin berada dalam siklus seperti itu terus menerus. Tapi ada satu yang pasti dan akan terus saya lakukan (atas izin Allah, tentu saja), bahwa saya akan tetap membeli dan memiliki mereka terus menerus, entah sampai kapan.
110617
-yw-
![]() |
| suasana pesta buku yang saya kunjungi - belum begitu ramai |

Komentar