Postingan

IBUK (terinspirasi dari Buku Happy Little Soul)

Selasa siang ini, disaat badan sedang tidak sehat karena banyak tingkah selama beberapa hari yang lalu, tiba-tiba ada kurir dari salah satu ekspedisi pengiriman yang mengantarkan barang atas nama Yuni Wulandari (Bapak Suwarno) -yeah, nama lelaki dalam kurung setelah namaku itu adalah nama my SuperMan, my lovely Daddy. Karena memang nama Bapak lebih familiar di telinga masyarakat sekitar rumahku-. Sempat bingung sebentar, tapi dua detik kemudian aku teringat pada barang yang masih terbungkus rapi dalam plastik yang dilapisi plastik. Happy Little Soul. Buku karya Retno Hening Palupi atau lebih dikenal dengan panggilan Ibuk, atau Ibok, atau Ibuknya Kirana, atau @retnohening. Buku Happy Little Soul ini adalah buku bertema parenting, yang diterbitkan oleh Gagas Media. Buku ini sudah mulai buka pre order sejak awal April lalu melalui beberapa toko buku online, salah satunya Republik Fiksi -yang saya pilih untuk mendapatkan buku ini-. Kupikir buku yang kupesan pre order akan lebih cepat sa...

ABU-ABU

Kamu dan keabu-abuanmu Kamu, rasamu, sikapmu terlalu abu-abu bagiku Jika hitam, tunjukkan padaku biar ku tahu Jika putih, tunjukkan juga padaku biar ku tak ragu Tapi kamu dan semua tentangmu tak pernah begitu Selalu abu-abu Pada satu masa, kau hadir dengan sebuah rasa yang kunamai cinta Aku terpesona Terlena oleh cinta Hingga dengan mudahnya, hati ini terbuka Menyambut rasa yang kunamai cinta Kurasa bahagia Lalu dilain masa, kau lenyap tanpa isyarat Hilang dari pandang Tak ada selamat tinggal, apalagi berpamitan Tak tahukah kau bahwa ada hati yang terbuka disatu masa? Tak inginkah kau tahu bahwa ada hati yang masih terbuka dan menganga? Kini, hati itu mengering Seperti daun-daun kering, yang menunggu jatuh dari ranting Tak sudikah kau melihat hati yang sedang mengering itu? Ah ya, pasti kau pikir itu bukan ulahmu Benar saja. Hati itu terbuka, menganga, bahkan tanpa diminta Tapi, tak adakah sedikit kebaikan untuk menutupnya? Jangan minta...

KALA HUJAN MEMBASAHI MINGGU

Aku ingat kala Semarang sedang sendu. Hujan disepanjang hari Minggu. Ia turun tanpa ampun. Bahkan tanpa kejelasan. Tak jelas mau reda atau deras. Rintiknya pun setia membuat tanah tetap basah. Tapi hujan tetaplah hujan. Tak akan jadi penghalang bagi suatu lahan kerja berbasis pelayanan kesehatan untuk berhenti melayani. Begitu pula dengan pelayannya, yang tetap melayani walau kadang tanpa pakai hati. Kutengok pintu kaca lebar di depanku. Sepi. Hujan selalu membuat siapapun enggan bersentuhan dengannya. Kasian. Banyak yang anti terhadapnya. Tapi diantara rintiknya, pasti tetap saja ada yang terpaksa harus berjumpa dan bersetuhan dengannya. Entah untuk apa, dan karena apa. Kubilang terpaksa karena kuyakin semua manusia pasti lebih memilih menikmati kehangatan sebuah ruangan, daripada basah terkena rintik si hujan. Anak lelaki dan seorang wanita paruh baya ini lah contoh atas keterpaksaan manusia untuk bertemu hujan. Mereka turun dari sebuah becak. Berjalan beriringan sambil memayu...

SHARING AND FUN EDUCATING ARSA COMMUNITY

Gambar
ARSA Community. Mungkin sebagian dari kalian tidak asing dengan nama ARSA. Ya, jika kalian browsing di google, maka kalian akan mendapatkan informasi atau artikel yang berhubungan dengan Bapak Chairul Tanjung (yang lebih dikenal dengan Bapak CT, yang terkenal sebagai orang terkaya kesekian di seluruh dunia dan memiliki beberapa perusahaan yang kemudian diembel-embeli dengan kata CT diawal atau diakhir nama perusahaan yang bersangkutan) dan istrinya, Ibu Anita Tanjung, yang juga aktif di bidang sosial dan kemanusiaan di Indonesia. Tapi tahukah kalian siapa founder atau pencetus komunitas ini? Bukan Bapak CT atau istrinya. Bukan. Jemi Ngadiono. Asingkah kalian dengan nama itu? Bagi sebagian anak muda yang tertarik dengan dunia sosial-pendidikan di Indonesia pasti tahu siapa beliau. Tapi bagi kalian yang belum tahu, izinkan saya sedikit memperkenalkan beliau. Beliau adalah founder dari 1000 guru, yang merupakan suatu komunitas peduli pendidikan pedalaman dan perbatasan Indonesia yang te...

DARI MATAMU - bagian dua-

Bagian kedua. Hari kedua kebersamaan kita di dunia nyata. Carrier dan perlengkapanmu memang ada di ruangan istirahat relawan wanita, jadi tak heran jika melihatmu seenaknya keluar masuk, bahkan saat kau masih sangat berantakan setelah terbangun dari tidur tampanmu. Kau pun masih memakai celana pendek -yang kuyakini menjadi kebiasaanmu : tidur hanya memakai celana super pendek-. Membuatmu makin menggemaskan. Dan membuatku makin dibuat gemas. Hahahaha. Aktivitas pertama dihari kedua adalah lari pagi. Aku suka olahraga lari, apalagi ada kau yang menemani. Tapi nyatanya, tak kulihat kau hadir. Hanya ada Aji. Biarpun ia tampan, tapi aku tak menginginkannya. Kuhanya inginkanmu, Rama. Berlebihan memang jika aku memujamu hingga sedemikian rupa. Berlebihan memang jika semangat olahragaku tiba-tiba terpacu saat melihatmu tersenyum menyapaku (ah, maksudku, menyapaku dan relawan lain yang sedang berjalan santai bersamaku). “Woy, ayo lariii!” sapamu sambil tersenyum dan berlalu. Celana pendekmu sa...

SABTU BERSAMAMU

Gambar
Bagian satu. Hari pertama kita berjumpa melalui dunia nyata. Pertemuan kita bagai suatu kebetulan yang runtut. Ah tidak, tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku selalu percaya bahwa apapun yang terjadi di dunia ini pasti sudah tertulis rapi dalam perencanaan Tuhan, termasuk pertemuan kita. Melihatmu kali pertama melalui dunia maya, sebulan yang lalu. Melalui sebuah komentar di e-poster ‘open recrutment volunteers ARSA Community’ milik temanku, Kuncoro. Ternyata kau juga mengenal Kuncoro. Jujur saja saat itu aku tak tertarik pada fisikmu, tapi aku tertarik pada namamu. Nama terakhirmu. Unik dan menarik perhatian. Terngiang dalam ingatan. Hingga pada akhirnya kita dipertemukan kembali dalam sebuah grup volunteers ARSA Community, dua minggu lalu. Kita sama-sama diterima jadi relawan. Walau sebenarnya aku tak menyangka kau juga mendaftar. Ada namamu dalam daftar volunteers yang diterima oleh ARSA Community dan ada pula nomor handphonemu dalam daftar anggota grup Whatsapp ARSA Community. Dan...

PERCAYAKAN HIDUPKU PADAKU, PAK, BU

Gambar
Semakin bertambahnya usia, maka semakin besar keegoisan dalam diri seseorang. Semakin bertambahnya usia, maka semakin sulit pula penyatuan pendapat antara seorang anak dengan orangtuanya. Ya, begitu menurutku. Begitu yang kurasakan. Semakin lama semakin nyata. Tak hanya rasa. Dulu aku bisa saja menuruti hampir semua kemauan orangtuaku. Hampir tak ada yang tak bisa kuturuti. Dan begitupun sebaliknya. Mereka tak pernah tak menuruti kemauanku. Kemauan kami berbeda. Kami saling menuruti kemauan satu sama lain. Maksudku, kemauan yang lain, bukan kemauan sendiri. Menjadikanku pribadi munafik. Sok membahagiakan orang lain tanpa peduli diri sendiri. Terus kujalani seperti itu. Berjalan hingga menjadi suatu kebiasaan, tanpa kesadaran. Terus kujalani seperti itu. Berjalan hingga menjadi suatu kemunafikan, tanpa perlawanan. Hingga usiaku menginjak 21 tahun. Tak lagi dianggap remaja. Sudah dewasa, begitu kata banyak manusia. Usia yang membuatku ingin keluar dari zona amanku. Tak ingin menjadi s...