Postingan

Ketradisionalannya Membuatku Jatuh Cinta

Gambar
Solo. Salah satu kota di Jawa Tengah dan menurutku lebih mempesona daripada kota kelahiranku, Semarang. Tak bermaksud membandingkan, hanya saja hatiku merasa sejuk ketika mendengar, membaca, menyebut kota itu. Keraton adalah bayangan pertama yang terlintas di otakku ketika bertemu dengan kata Solo. Bayangan yang sangat tradisional, bukan? Tapi sangat menyejukkan. Aku memang tidak mengenali Solo secara mendalam, karena aku bukan penduduk asli Solo, bukan perantau di Solo, dan bukan pengunjung setia Solo, tapi aku merupakan penggemar setia Solo yang akan selalu sumringah ketika ada ajakan berkunjung ke sana. Pertama kali mengenal Solo melalui Ibuk (yang tumbuh dewasa di Solo). Sudah sejak kecil aku diajak bolak balik ke Solo. Sudah sejak kecil aku diajak jalan-jalan ke tempat-tempat sejarah di Solo. Sudah sejak kecil aku dibiasakan diajak menyusuri pasar tradisional Solo. Sudah sejak kecil aku mulai terbiasa menghirup udara Solo. Dan mungkin sejak kecil aku jatuh cinta pada Solo....

LIMA JUNIKU

Ini tanggal lima. Lima Juni. Belum sadar juga kalau ini bulan Juni tanggal lima? Terlalu! Aku mungkin bisa menunggu, tapi tidak selamanya. Aku juga punya lelah. Aku lelah menungggumu yang tak pernah pasti. Kau memang tak pernah memintaku untuk menunggu. Ini hanya kebodohanku saja yang rela menunggu ketidakpastianmu dengan seluruh kepastianku. Ini tanggal lima Juni. Tolong sadari. Aku juga ingin kau pandang. Semenit saja pun tak apa. Beri aku menitmu, tanpa ada dia, dia ataupun dia yang selalu mampu menyita waktu hidupmu. Aku muak dengan semua manusia manis di hidupmu. Mereka datang dengan pesona, kau terpesona, dan aku menjadi yang terlupa. Lima juni itu tanggalku. Tak bisakah kau hadir pada tanggal itu? Karena seperti yang kubilang, dalam hitungan menit pun tak apa asalkan hanya ada aku dalam hati dan pikiranmu. Tak taukah kamu, aku menunggumu ditanggalku itu? Aku menunggu semangatku yang sebagian ada di kamu. Jika memang tidak bisa, sekalian saja kau pergi selamanya. Tak perlu kau...

PUISI 'nemu'

Beberapa tahun yang lalu di sebuah kelas dalam gedung sekolah, aku menemukan secarik kertas kecil yang sangat tak menarik untuk dilihat. Sebenarnya ingin membuangnya tanpa berniat melihat secara detail, tapi kebosanan dan keisengan secara tidak sengaja membuatku ingin membuka kertas kusam itu. Membuka dan membaca kalimat pertama tanpa ketertarikan. Kemudian, membaca lagi. Aku malah tersenyum. Siapapun penulis kalimat-kalimat cantik itu, aku ingin berkata, terima kasih atas keindahan kalimat-kalimat sederhana pada kertas kusammu. Seperti pelangi cinta di hatimu, walau indah kurasa kau tak mungkin ada di sini, di sisiku Walau di hatiku hanya ada abu cintamu, melukiskan inginku Kini kumengerti, kau bukan untukku Harusnya ku tak pernah mencintaimu, walaupun semuanya indah, tapi pahit untuk kurasa Seperti halnya pelangi, kuhanya bisa menatapmu -2009- 130111 -yw-