(RESEP SUP JAGUNG ALA) ANAK RANTAU BARU
Sebagai anak rantau
baru, yang baru sekali ini pergi sangat jauh dari rumah, yang baru sekali ini
pergi luar pulau, yang baru sekali ini pergi tanpa teman atau keluarga satupun,
yang baru sekali ini pergi dalam jangka waktu lama, dan yang baru sekali ini
pergi jauh dengan membawa rasa nasionalisme, aku merasa baru sekali ini juga punya
tanggung jawab lebih terhadap hidupku sendiri. Hahaha.
Mungkin agak lebay sih
ya kalau untuk anak rantau lama, apalagi untuk seorang petualang yang memang
doyan keluyuran. Pasti akan ada pikiran atau cibiran “halah, baru juga ke luar
pulau. Masih di Indonesia ini. Terlalu dramatis deh. Lebay”. Haha, please bro,
sis, itu mungkin menurut kalian. Tapi ini aku, salah satu gadis berkepribadian
intovert yang memilih mengejar mimpinya hingga ke pulau seberang.
Terlalu lama hidup
dalam kenyamanan di Pulau Jawa memang membuatku sedikit terlena. Ah bukan
sedikit lagi. Tapi sangat. Sangat membuatku terlena. Dan
bahkan cenderung kurang mensyukuri kenyamanan itu. Aku sering merasa kurang
dengan segala kenyamanan di Pulau Jawa, terkhusus Jawa Tengah. Aku sering
komplain tentang banyak hal, terutama masalah harga. Hahaha, lagi-lagi yang berkaitan
dengan nominal dan rupiah. Duit. Uang.
Dikarenakan biaya hidup dan biaya untuk bertahan hidup di tanah rantau ini amat sangat mahal (fyi, harga bisa dua kali lipat dari harga normal di Jawa Tengah), maka kuputuskan untuk membiasakan diri hidup berhemat, yang sedikit menyerempet ke kategori pelit. Hahaha. Maklum, anak rantau baru.
Seberapa
mahal sih biaya hidup di sana?
Ya seperti yang sudah
kubilang bahwa harga bisa mencapai dua kali lipat dari harga di Jawa Tengah.
Contoh, harga air mineral paling beken di Indonesia dijual 2500-3000 per 600 ml di Jawa Tengah, sedangkan di sini harga tersebut menjadi 5000. Harga dua kali lipat tersebut berlaku untuk hampir semua barang dan bahan yang diperjualbelikan, tak terkecuali pilus garud* sachet kecil yang biasa dijual 500rupiah di Jawa. Maka dari itu kuputuskan untuk banyak-banyak belajar dan meminta resep masakan Ibuk di rumah melalui media video call.
Contoh, harga air mineral paling beken di Indonesia dijual 2500-3000 per 600 ml di Jawa Tengah, sedangkan di sini harga tersebut menjadi 5000. Harga dua kali lipat tersebut berlaku untuk hampir semua barang dan bahan yang diperjualbelikan, tak terkecuali pilus garud* sachet kecil yang biasa dijual 500rupiah di Jawa. Maka dari itu kuputuskan untuk banyak-banyak belajar dan meminta resep masakan Ibuk di rumah melalui media video call.
Kenapa harus masak? Repot. Lebih enak beli makanan jadi siap makan kan?
Benar, memang enak sih beli makanan jadi yang tinggal datang, pilih, tunggu, bayar, dan siap santap. Tapi, ada sesuatu yang sangat berat sebelum tahapan siap santap, yaitu tahapan bayar. Ya, MEMBAYAR. Hahaha. Karena, tahukah kalian bahwa harga makanan siap makan di sini berkisar antara 15ribu-30ribu per porsi? Itu bukan porsi jumbo, tapi porsi normal manusia biasa.
Contoh, di sini untuk
sekali makan gado-gado atau pecel harganya 25ribu per porsi ditambah es teh
manis 5ribu per gelas. Total 30ribu. Itu untuk sekali makan. Padahal 30ribu
tersebut seharga ikan setengah kilo, cabe kecil-kecil, bawang merah, bawang
putih, dan tomat (dengan timbangan dalam satuan ons loh ya). Dan ikan tersebut
bisa untuk tiga kali makan. Itu artinya, aku bisa hemat dua kali jatah makan
makanan siap santap. Dan artinya lagi, aku bisa hemat 50-60ribu dalam sehari. lumayan banyak kan?
Itulah mengapa aku
lebih memilih repot memasak daripada membeli makanan siap santap. Dan itulah
mengapa aku ingin sedikit sombong dengan membagi satu resep yang kudapat dari
Ibuk, dengan sedikit modifikasi karena keterbatasan bahan.
Yaelah,
Yun, basa basi lima paragraf lebih itu ternyata mau kasih resep masakan doang?
Hehehe, harap maklum ya. Namanya juga anak rantau baru, yang baru tergerak hatinya untuk belajar masak dan lagi semangat-semangatnya mencoba resep masakan dari ibuk.
Emang resep apaan sih?
Resep masakan sederhana. cuma sup jagung ala anak rantau baru, dengan bahan seadanya. Hihi.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
- Jagung manis 2
bonggol
- wortel 1 buah
- sossis ayam jika ada
dan jika suka
- telur 1 butir
- seledri 2 tangkai,
ambil daunnya saja, iris kasar
- bawang putih 1-2
siung, haluskan
- merica bubuk instan
setengah sendok teh
- penyedap rasa, bisa
pakai royc* atau masak* setengah bungkus
- air matang 2-3 gelas
kecil
| jagung serut, sossis ayam, wortel, telur, bawang putih dan merica yang telah dihaluskan |
Cara memasak :
- Serut jagung manis
dengan pisau
- wortel dipotong dadu,
dan sosis dipotong sesuai selera
- panaskan air dalam
panci
- sambil menunggu air
mendidih, haluskan bawang putih dengan merica bubuk
- setelah air mendidih,
masukkan bumbu halus, dan aduk sebentar. Lalu masukkan wortel
- setelah 3 menit atau
dirasa wortel sudah agak empuk, masukkan jagung, sosis dan seledri
- tambahkan penyedap
rasa, dan aduk sebentar
- masukkan telur dan
langsung diaduk agar telur tercampur rata
- cicipi untuk
mengkoreksi rasa
Jika kurang asin, silakan tambahkan penyedap
rasa. Jika terlalu asin, bisa tambahkan air.
-
dan sup jagung sederhana ala anak rantau siap disantap dengan atau tanpa nasi
| sup jagung ala anak-rantau-baru siap dinikmati untuk diri sendiri |
Yah walaupun sederhana,
yang kata orang “cuma gituan doang sih gue juga bisa”, tapi akan jadi sangat mengesankan
jika dikerjakan dengan sepenuh hati. Percaya deh. Haha.
Jadi, untuk para anak rantau baru yang lagi sedih ngatur keuangan, ditambah kaget perihal kondisi harga di tanah rantau yang punya perbedaan cukup signifikan dengan tanah asal (like me, haha), udah yaa sedihnya jangan lama-lama, kagetnya jangan berlarut-larut. Cukup seminggu sampai sebulan aja sedih dan kagetnya, karena sebulan setelah kerja akan ada pemasukan alias gaji, yang bisa diolah sesuai kondisi dan biaya hidup di tanah rantau.
Dan aku di sini tidak
bermaksud menggurui siapapun. Aku hanya belajar dari pengalamanku sendiri. Pengalamanku yang kurang mensyukuri kenyamanan dan keenakan yang kudapat di
masa lalu. Karena disaat dulu aku sering mengeluh perihal harga dan biaya hidup
mahal, padahal kenaikan tak lebih dari lima ribu doang. Dan ternyata disisi kehidupan yang lain, ada banyak
orang yang ikhlas-ikhlas saja hidup dengan biaya dua kali lipat lebih mahal daripada
biaya hidupku dulu.
Banyak orang di sini, di tanah rantauku, yang nggak pernah protes atau menggerutu dengan harga gas LPG yang selisih 15 ribu dari harga pasaran di tanah asalku, padahal mereka tahu tentang itu. Mereka tahu tentang biaya hidup yang lebih terjangkau di tanah seberang, tapi tak pernah sekalipun kudengar keluhan ‘mahal’ keluar dari bibir mereka.
Mmm, mungkinkah ini
tentang kebiasaan? Dimana mereka sudah terbiasa dengan biaya hidup yang serba
mahal, sehingga mereka malas untuk mengeluhkan sesuatu yang mau-tak-mau memang
harus diterima dan dijalani.
Ah iya. Sepertinya
memang itu kuncinya. Biasa. Terbiasa. Kebiasaan. Membiasakan.
Mereka bisa karena terbiasa. Aku masih banyak mengeluh karena belum terbiasa. Sama halnya dengan aku yang tak bisa masak karena belum terbiasa memasak.
Mereka bisa karena terbiasa. Aku masih banyak mengeluh karena belum terbiasa. Sama halnya dengan aku yang tak bisa masak karena belum terbiasa memasak.
Ok, kalau begitu aku memang
harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan di tanah rantauku yang
akan menghidupiku hingga minimal satu-dua tahun ke depan. Aku harus membiasakan
diri dengan biaya hidup yang memang begitu adanya, tanpa membandingkan dengan
biaya hidup di tanah asal.
Aku harus membiasakan diri dengan kemandirian yang ekstra untuk hidupku sendiri. Aku harus membiasakan diri untuk belanja sendiri, berinisiatif memikirkan kebutuhan sendiri, memasak sendiri, mencuci piring baju sendiri, dan tidur sendiri, walaupun aku hidup di sini tak sendiri. Tapi minimal aku harus lebih terbiasa bertanggung jawab dan mengurus hidupku sendiri, sebelum aku diberi tanggung jawab untuk mengurus hidup anak orang. Ehem, maksudku, suamiku nanti. Hahaha.
Aku harus membiasakan diri dengan kemandirian yang ekstra untuk hidupku sendiri. Aku harus membiasakan diri untuk belanja sendiri, berinisiatif memikirkan kebutuhan sendiri, memasak sendiri, mencuci piring baju sendiri, dan tidur sendiri, walaupun aku hidup di sini tak sendiri. Tapi minimal aku harus lebih terbiasa bertanggung jawab dan mengurus hidupku sendiri, sebelum aku diberi tanggung jawab untuk mengurus hidup anak orang. Ehem, maksudku, suamiku nanti. Hahaha.
Sekian cerita yang tak berkonsep ini.
Terima kasih.
181117
-yw-
nb : akan menyusul resep-resep sederhana lainnya ala anak-rantau-baru
Komentar